Dari peron Yogyakarta hingga gang-gang Pecinan, sebuah perjalanan menemukan pesona kota atlas yang kerap terlupakan.
Ada sesuatu yang istimewa dari perjalanan kereta — ritme rel yang berulang, pemandangan sawah yang bergulir pelan di balik kaca, dan perasaan bahwa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Sore itu, saya memilih Semarang sebagai tujuan berikutnya. Bukan Bali, bukan Lombok. Semarang, dengan kota lamanya yang berdebu dan pasar paginya yang ramai, memanggil lebih keras dari sebelumnya.
01 Naik KAI Joglosemarkerto 187 — Kereta yang Menghubungkan Dua Kota
Tepat pukul 14.37 WIB, KA Joglosemarkerto 187 meninggalkan Stasiun Yogyakarta dengan tenang. Tidak ada klakson berlebihan, tidak ada kepanikan. Kereta ini terkenal tepat waktu — salah satu kebanggaan KAI untuk rute Joglosemarkerto yang menghubungkan Jogja, Solo, Semarang, hingga Purwokerto.
| INFO PERJALANAN | |
| Kereta | KA Joglosemarkerto 187 |
| Rute | Yogyakarta → Semarang Tawang |
| Berangkat | 14.37 WIB |
| Tiba | 18.02 WIB |
| Durasi | ± 3 jam 25 menit |
| Stasiun Tujuan | Semarang Tawang |
Tiga setengah jam terasa singkat. Pemandangan berganti dari deretan rumah pinggiran Jogja, melintasi jembatan sungai kecokelatan di perbatasan Jawa Tengah, hingga pelabuhan dan atap-atap merah khas Semarang yang mulai tampak ketika kereta melambat mendekati Stasiun Tawang. Pukul 18.02 WIB, tepat sesuai jadwal, saya menginjakkan kaki di kota ini.
02 Hotel Pelangi Indah — Menginap di Jantung Kota Lama
Salah satu keputusan terbaik dalam perjalanan ini: memilih hotel yang dekat Stasiun Tawang. Cukup berjalan kaki beberapa menit dari stasiun, saya sudah sampai di Hotel Pelangi Indah.

Lokasinya bukan sekadar ‘dekat stasiun’ — hotel ini berada persis di kawasan Kota Lama Semarang, area yang oleh banyak pelancong disebut sebagai ‘Little Netherlands’-nya Indonesia.
“Menginap di Kota Lama bukan hanya soal tidur — melainkan soal terbangun di dalam sejarah, di mana setiap tembok punya cerita dari abad ke-17.”


03 Kota Lama Semarang — Belanda yang Tertinggal di Tropis
Kota Lama Semarang adalah kawasan bersejarah seluas sekitar 31 hektare yang pernah menjadi pusat perdagangan VOC pada abad ke-17 hingga ke-19. Di sinilah denyut ekonomi Semarang kolonial pernah berdegup kencang — kapal-kapal merapat, gudang-gudang penuh rempah, dan arsitektur Eropa tumbuh di tanah Jawa.
Hari ini, Kota Lama telah direnovasi menjadi destinasi wisata yang memukau. Jalan-jalan berbatu koral, gedung-gedung bergaya Baroque dan Neo-Klasik dengan dinding tebal dan jendela lengkung tinggi, lampion-lampion yang menyala hangat saat senja tiba — semuanya menciptakan atmosfer yang sulit ditemukan di kota lain di Indonesia.
Beberapa landmark yang wajib dikunjungi: Gereja Blenduk dengan kubah besarnya yang ikonik (dibangun 1753), Jembatan Berok yang memotret masa kejayaan perdagangan, Gedung Nederlandsch Indische Levensverzekering, hingga deretan kafe dan galeri seni yang kini menghuni bangunan-bangunan tua. Berjalan kaki di sini seperti membaca buku sejarah — hanya saja dindingnya nyata dan bisa disentuh.
· · ·
04 Malam di Simpang Lima — Kuliner dan Cahaya Kota
Perut mulai berbicara menjelang malam. Saya menuju Simpang Lima, alun-alun modern Semarang yang menjadi titik temu warga kota di malam hari. Lima jalan besar bermuara di sini, dan di sekelilingnya berjejer pedagang kaki lima, warung kuliner, hingga restoran dengan kursi terbuka menghadap lapangan yang terang benderang.
Pilihan malam itu jatuh pada gado-gado — sajian sederhana yang, menurut saya, adalah salah satu makanan paling jujur di Nusantara. Sayuran rebus, tahu, tempe, telur, lontong, disiram bumbu kacang yang gurih manis dengan sedikit tendangan pedas dari cabai rawit. Di Semarang, bumbu kacang gado-gadonya terasa lebih kental dan harum dari kebanyakan tempat lain yang pernah saya coba.
| 🥗 | Gado-Gado Sayuran rebus dengan bumbu kacang kental, sajian favorit malam hari di Simpang Lima. |
| 🍜 | Lumpia Semarang Kuliner khas kota ini, isian rebung dan udang dalam kulit tipis renyah. |
| 🍛 | Nasi Ayam Semarang Nasi gurih dengan ayam opor, sate ati, dan kuah kental yang menghangatkan. |
| 🍡 | Wingko Babat Kue basah dari kelapa dan ketan, oleh-oleh legendaris dari Semarang. |


Setelah kenyang, saya menyusuri pinggiran alun-alun bersama kerumunan warga yang menikmati malam. Ada anak-anak yang bermain, pasangan yang duduk di bangku taman, pedagang balon yang melenggang santai. Simpang Lima di malam hari adalah Semarang yang paling otentik — ramai namun tidak gaduh, hidup tanpa terburu-buru.
05 Jalan-Jalan ke Mall — Sisi Modern Semarang
Semarang bukan hanya kota tua dan warung kaki lima. Kota ini memiliki deretan pusat perbelanjaan modern yang lengkap dan nyaman. Beberapa mall yang bisa dikunjungi:
- Paragon City Mall — salah satu mall terbesar dan termewah di Semarang, terletak di pusat kota. Anchor tenant-nya lengkap, mulai dari supermarket, bioskop, hingga brand lokal dan internasional.
- DP Mall Semarang — berada di kawasan strategis Jl. Pemuda, dekat dengan banyak landmark kota. Suasananya lebih compact dan mudah dijelajahi.
- Java Supermall — salah satu yang tertua namun tetap ramai, terkenal dengan area kuliner dan food court-nya yang variatif.
- Ciputra Mall Semarang — pilihan favorit keluarga, dengan area hiburan dan food & beverage yang beragam.
- Mal Ciputra Simpang Lima — lokasinya tepat di kawasan Simpang Lima, sangat strategis untuk wisatawan yang menginap di pusat kota.



06 Pasar Pecinan — Pagi yang Penuh Rasa
Alarm berbunyi pukul 06.30. Tujuannya satu: Pasar Pecinan Semarang sebelum kerumunan datang. Kawasan Pecinan — atau Gang Warung dan sekitarnya — adalah salah satu pecinan tertua di Indonesia, hidup berdenyut sejak masa awal perdagangan antara pedagang Tionghoa dan warga lokal berabad-abad silam.
Di pagi hari, Pecinan berubah menjadi pasar tumpah yang semarak. Gang-gang sempit penuh sesak oleh penjual makanan khas yang tersusun rapi di atas meja kayu dan terpal biru. Aromanya menggugah: asap dari penggorengan, wangi roti kukus yang baru matang, bau khas jahe dari minuman hangat, hingga harum minyak wijen yang menguar dari wajan.
Makanan yang wajib dicoba di Pasar Pecinan: tahu gimbal dengan bumbu kacang petis, soto Semarang berkuah bening dan segar, kue lekker tipis renyah isi meses dan keju, es krim potong tiga warna yang mengingatkan masa kecil, hingga aneka kue basah seperti klepon, cenil, dan kue ku yang dijual per biji dengan harga sangat terjangkau.
“Di Pasar Pecinan, satu porsi bakso bisa membuat hari terasa lebih ringan — kuah gurih, daging kenyal, dan semangkuk kehangatan yang tepat di pagi yang masih berembun.”
Saya mengakhiri sesi pasar pagi dengan semangkuk bakso — bukan sekadar bakso biasa. Bakso Semarang terkenal dengan kuahnya yang bening namun kaya rasa dari tulang sapi yang direbus lama, bola daging yang padat dan kenyal, ditambah mie kuning, bihun, dan taburan bawang goreng. Dimakan panas-panas di pinggir gang sempit Pecinan, dengan suara tawar-menawar di sekeliling — itu adalah salah satu sarapan terbaik dalam hidup saya.
· · ·
Dua hari di Semarang terasa seperti membuka album foto lama yang belum pernah dilihat — setiap halaman menyimpan kejutan, setiap sudut kota punya ceritanya sendiri.
PERJALANAN BERIKUTNYA → SURABAYA