



Perjalanan ke Pulau Moa kali ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ada misi penting di baliknya: melakukan konsultasi publik penyusunan RPHJP KPHP Pulau Babar–Moa—sebuah langkah awal menentukan arah pengelolaan hutan yang berkelanjutan di wilayah tersebut.
Perjalanan dimulai dari Ambon dengan menggunakan Trigana Air. Pesawat kecil yang kami tumpangi melaju membelah langit Maluku, menyuguhkan pemandangan gugusan pulau-pulau yang tersebar seperti permata di atas laut biru. Dari ketinggian, terlihat jelas kontras antara laut yang luas dan daratan yang hijau—sebuah pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam yang menjadi tujuan utama perjalanan ini.
Setelah mendarat, perjalanan dilanjutkan menuju Tiakur, pusat kegiatan sekaligus ibu kota kabupaten. Suasana kota kecil ini terasa hangat dan bersahaja. Tidak butuh waktu lama untuk merasakan kedekatan dengan masyarakatnya—senyum ramah dan sapaan sederhana menjadi hal yang langsung melekat.
Kegiatan konsultasi publik berlangsung di sebuah aula yang dipenuhi berbagai pihak: pemerintah, tokoh adat, masyarakat, hingga tim teknis. Diskusi berjalan dinamis. Ada harapan, ada kekhawatiran, dan ada tekad yang sama—agar hutan tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar objek eksploitasi. Di sinilah terasa bahwa RPHJP bukan hanya dokumen, tetapi representasi masa depan yang sedang dirancang bersama.
Di sela kegiatan, saya menyempatkan diri menuju Gunung Kerbau. Hamparan padang rumput yang luas, angin yang tak henti berhembus, serta kerbau-kerbau yang merumput tenang menciptakan suasana yang begitu alami. Dari puncaknya, terlihat bentang Pulau Moa yang utuh—hutan, pemukiman, dan laut yang menyatu dalam satu lanskap kehidupan.
Di titik itu, saya merenung. Apa yang dibahas di ruang konsultasi memiliki keterkaitan langsung dengan pemandangan yang ada di depan mata. Jika dirancang dengan bijak, hutan-hutan ini akan tetap lestari dan masyarakat tetap hidup sejahtera. Namun jika tidak, keseimbangan itu bisa perlahan hilang.
Perjalanan ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar tugas dinas. Ia adalah pengalaman yang mempertemukan antara kebijakan, alam, dan manusia dalam satu ruang yang sama. Dan ketika meninggalkan Tiakur, saya membawa satu keyakinan: bahwa masa depan hutan di Pulau Babar–Moa sangat bergantung pada bagaimana kita merencanakannya hari ini—dengan hati, dengan ilmu, dan dengan mendengar suara masyarakat.